Tulisan ini ku dedikasikan untuk Kamu yang ada disana.. Meskipun terkesan seperti Diary, tapi aku pernah membaca suatu kutipan darimu : “Jika kamu sedih, ceritalah.. Karena dengan bercerita maka kamu akan lebih baik lagi”.
Ya postingan kali ini ku akui memang menyingung agama, Tepatnya Cinta beda Agama. Tapi aku, kamu dan mungkin pembaca ini percaya. Kalo Tuhan tidak akan mempertemukan kita tanpa adanya alasan juga. Tapi bisakah aku bermimpi kalo kita bisa bersama meskipun mengenal Tuhan dengan nama yang berbeda?
Aku bukan sebuah robot yang selalu nyaman dengan kesendirian. Banyak yang bilang aku seperti itu, termasuk kamu, Bayangkan saja ketika mau menjalin hubungan dengan bayangan rasa sakit atas masa lalu yang pernah ku alami. Meskipun pada akhirnya sakit sendiri Hatiku memikirkan itu semua. Ya ini memang terdengar seperti aku yang tidak dewasa. Tapi harus ku akui memang memendam luka yang selama ini kupendam.
Dan saat itu kamu datang kepadaku, dengan penuh keraguan kubuka hatiku untukmu. Karena aku sering tersakiti, Namun sifatmu dan kepedulianmu mengubah pemikiranku terhadapmu, meskipun kamu dan aku beda agama. Kamu mampu membuatku bahagia bersamamu dalam kata “Teman”
Kamu adalah jawaban dari ketulusan yang ku inginkan. Meskipun harus patah dan putus arah, Namun kamu ada disana untuk membangkitkan rasa diriku kembali. Memang pada akhirnya, kamu bisa menyatukan bagian yang putus maupun patah layaknya teka-teki. Ketika aku ingin menjauh dari masalah yang kualami. Kamu selalu ada disitu dan memberikan kepercayaan kepadaku untuk melewati semua masalah yang kualami. Dan disinilah aku :)
Ketika aku terpuruk didasar jurang, Disana kamu datang untuk membantuku Mendaki ataupun melewati jurang tersebut. Kamu ada ketika aku jatuh, dan membantu aku bangkit dari keterpurukan tersebut. Meskipun sekarang aku apatis terhadapmu. Ku akui sulit mencari orang yang rela bersamaku meskipun aku tidak ingin kamu bersamaku.
Oiya, kamu merubah segalanya dalam hidupku. Dari Fase kelamku, kamu ada untuk merubah Fase tersebut. Kamu datang seperti dokter yang siap mengobati aku dengan alat doktermu. Aku yang tadinya tersakiti, sekarang sembuh dengan cinta yang tumbuh dalam hatiku. Terimakasih sudah membuktikan kepadaku kalo masih ada orang yang bisa dipercaya disana :)
Bersamamu membuatku berani lagi untuk jatuh cinta. Dan sebetulnya aku paham. Ada sebuah sungai besar yang menghalangi kita untuk bersama. Tidak ada cinta yang sempurna, Seperti cinta kami ini. Setiap cinta pasti ada penghalangnya. Meskipun begitu, aku selalu ingat sebuah teori yaitu : “tidak ada yang tidak mungkin jika kita mau berusaha”. Meskipun kami harus berdamai karena kami mengenal Tuhan dengan nama yang berbeda, tapi aku maupun dia tidak ingin banyak bermimpi karena sudah pasti banyak yang tidak menginginkan ini terjadi suatu hari nanti.
Namun sejujurnya, melepaskan semua ini juga tidak mudah, Rasa nyaman itu sangat sulit untuk dilepaskan. Karena dia sudah ku anggap sebagai pasangan yang ku inginkan selama ini. Rasa nyaman ini membuat kita sulit untuk merelakan perpisahan itu, bukan kali ini saja aku ingin berpisah dengan dia. Tapi dengan postingan ini aku sangat ingin maju tanpa dia.
“Habis putus itu yang paling susah bukan ngelupain perasaan gue sama dia, tapi ngelupain kebiasaan gue sama dia. Dari kebiasaan itu menciptakan kebutuhan” –Alitt (Relationshit)
Pada akhirnya, Menebak akhir drama cinta ini jelas tidak bisa kulakukan. Tapi jika aku boleh bertanya, “bisakah aku hidup menjalin hubungan serius sama dia yang mengenal Tuhan yang berbeda nama?” Ya seperti kataku tadi, tidak banyak mimpi yang kuharapkan. Meskipun kami akhirnya menemukan banyak sekali kecocok kan. Namun perlahan-lahan kami jugalah yang harus mengubur mimpi tersebut karena Tuhan yang berbeda.
“Tuhan memang Satu, kita yang tak sama.. Haruskah aku lantas pergi, Meski cinta takkan bisa pergi” –Marcell Siahaan – Peri Cintaku
Ending Fast And Furious 7 Ala GTA WISE GUY
Dan lewat postingan ini, aku berharap kamu yang ku maksud membaca postinganku ini bisa mengetahui apa yang ada didalam hatiku sekarang ini. Kini perlahan pun kita menjauh satu dengan yang lainnya. Meski kita berkali-kali bertanya hak untuk bahagia, namun kita menyadari juga bahwa perbedaan agama kita membuat kita tidak bisa memaksakan segalanya. Tapi sekarang, saat ini, ada sebuah pertanyaan yang ingin kukatakan :
“Bolehkan aku menginginkanmu meskipun kita berbeda Tuhan?”
Tidak ada komentar:
Posting Komentar